Direktori Tanaman Obat & Pengobatan

Secang | Caesalpinia sappan L.

0

Secang masuk dalam familia Caesalpiniaceae (Leguminosae)

Nama daerah : seupung (Aceh), sepang (Gayo), sopang (Toba), lacang (Minangkabau), secang (Sunda, Jawa, Madura), sepang (Sasak), supa (Bima), sepel (Timor), hape (Sawu), hong (Alor), sepe (Roti), sema (Manado), dolo (Bare), sapang (Makasar), sepang (Bugis), sepen (Halmahera Selatan), sungiang (Ternate), roro (Tidore).

Nama asing : Sappan wood

Nama simplisia : Sappan lignum (kayu secang).

Uraian tanaman : Tanaman ini menyenangi tempat terbuka sampai ketinggian 1000 mdpl, seperti daerah pegunungan yang berbatu tetapi tidak terlalu dingin. Secang tumbuh liar dan kadang ditanam sebagai tanaman pagar atau pembatas kebun.

Pedu atau pohon kecil, tinggi 5-10 m, batang dan percabangan berduri tempel yang bentuknya mambengkok dan letaknya terseba, batang bulat, warnanya hijau kecoklatan. Daun majemuk menyirip ganda, panjang 25-40 cm, jumlah anak daun 10-20 pasang yang letaknya berhadapan. Anak daun tidak bertangkai, bentuknya lonjong, pangkal rompang, ujung bulat, tepi rata dan hampir sejajar, panjang 10-25 mm, lebar 3-11 mm warna hijau. Bunganya bunga majemuk berbentuk malai, keluar dari ujung tangkai dengan panjang 10-40 cm, mahkota bentuk tabung, warnanya kuning. Buahnya buah polong, panjang 8-10 cm, lebar 3-4 cm, ujung seperti paruh berisi 3-4 biji, bila masak warnanya hitam. Biji bulat memanjang, panjang 15-18 mm, lebar 8-11 mm, tebal 5-7 mm, warnanya kuning kecoklatan.

Panenan kayu dapat dilakukan mulai umur 1-2 tahun. Kayunya bila digodok memberi warna merah gading muda, dapat digunakan untuk pengecatan, memberi warna pada bahan anyaman, kue, minuman atau sebagai tinta. Perbanyakan dengan biji atau stek batang.

Sifat kimiawi dan efek farmakologis : Tanaman ini rasanya sepat dan tidak berbau. Kayunya mengadnung asam galat, tanin, resin, resorin, brasilin, brasilein, d-alfa-phellandrene, oscimene, dan minyak atsiri. Daunnya mengandung minyak atsiri 0,16-0,20%, berbau enak, dan hampir tidak berwarna.

Kandungan kimia : 
– Kayu : Asam galat, tanin, resin, resorsin, brasilin, brasilien, d-phellandrene, oscimene. minyak astri.
– Daun : 0-16%-0,20% minyak astri yang berbau enak dan hampir tidak berwarna.

Bagian yang dipakai : Kayu. Kulitnya dibuang, dipotong-potong lalu dikeringkan.

Kegunaan :

  • Diare, disentri.
  • Batuk darah pada TBC.
  • Muntah darah, berak darah, luka berdarah, memar berdarah.
  • Luka dalam.
  • Sifilis, darah kotor.
  • Radang selaput lendir mata.
  • Malaria.
  • Pengobatan setelah bersalin.
  • Tetanus.
  • Pembengkakan (tumor).
  • Nyeri karena ganggguan sirkulasi darah dan Ci

Pemakaian :
– Untuk minum : 3-9 gr, direbus.
– Pemakaian luar : Kayu rebus, airnya untuk mencuci luka, luka berdarah atau dipakai untuk merambang mata yang meradang.

Cara pemakaian :

  1. Pembersih darah : Rebus kerokan kayu bersama ketumbar dan daun trawas
  2. Diare/mencret : Potong kecil-kecil kayu secang sebanyak 5 gram lalu rebus dengan 2 gelas air bersih selama 15 menit. Kemudian saring setelah dingin dan bagi menjadi 2 bagian. Minum ramuan pada pagi dan sore.
  3. Batuk darah TBC : Cuci pdan potong 1,5 jari kayu secang, lalu rebus dengan 4 gelas air bersih sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin, saring, dan minum sebanyak 3 kali masing-masing 3/4 gelas dalam sehari.
  4. Radang selaput lendir mata : Cuci dna potong 2 jari kayu secang lalu rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1,5 gelas. Setelah dingin, saring dan gunakan airnya untuk mengkompres mata yang sakit.
  5. BAB berdarah : Cuci dan potong 1 jari kayu secang lalu rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1,5 gelas. Setelah dingin, saring lalu minum dengan madu secukupnya. Sehari 2 x 3/4 gelas.

Leave a Reply