Direktori Tanaman Obat & Pengobatan

Saga | Abrus precatorius Linn

0

Saga masuk dalam familia Papilionaceae <Leguminosae>

Sinonim : A. frutex Rumph

Nama daerah : Sumatera : thaga, saga, hasobe, parusa, akar belimbing akar saga betina, saga betina, saga biji, saga kendiri, kenderi kundi, saga buncik, saga letek, sago betino, kanderi, kunderi. Jawa : saga areuy, saga leutik, saga cai, saga telik, saga manis, ghak-saghakan lakek. Kalimantan : saga, taning bajang. Nusatenggara : maat metan, piling-piling. Sulawesi : walipopo, punu no matiti, saga, kaca. Maluku : war kamasin, war kamasan, malimali, aliwensi, pikalo, kaitasi, pikal, ailalu picar, seklawan, idisi ma lako, idihi ma lako, idi-idi ma lako, pinci, tatampunei, tampunei. Irian : kalepip

Nama asing : Koraalerwt, paternosterboontjes, wees-of weegboontjes (Belanda), indian liqiorice, crab’s eyes, chinese red beans, bead tree (Inggris), chanoti, gunchi (India).

Uraian tanaman : Saga dapat ditemukan tumbuh liar di hutan, semak belukar atau ditanam dipekarangan sebagai tanaman obat. Tanaman negara tropis dan subtropis ini dapat tumbuh di daerah kering pada tempat-tempat yang sedikit terlindungi. Asalnya ada yang mengatakan dari Asia dan Afrika, serta dapat ditemukan dari 1-1000 mdpl.

Tanaman perdu yang memanjat dan membelit kekiri pada tanaman lain atau dipagar ini, tingginya mencapai 2-5 m, dan mempunyai pokok batang yang kecil. Daunnya berupa daun majemuk menyirip genap yang tumbuh berseling, panjang 4-11 cm. Anak daun 8-17 pasang, bertangkai pendek, panjang 5-20 mm, lebar 3-8 mm. Helaian daun bentuknya jorong melebar atau bundar telur, ujung dan pangkalnya tumpul agak membundar, warnanya hijau sampai hijau pucat, permukaan atas licin, permukaan bawa berambut halus, tuang daun menonjol dipermukaan bawah. Bunga kecil-kecil dengan mahkota bunga berbentuk kupu-kupu, warnanya ungu muda tumbuh berkumpul dalam tandan yang keluar dari ketiak daun. Buahnya buah polong berwarna hijau kuning, gepeng bersegi empat memanjang, daun 2-5 cm, lebar 1,2-1,4 cm. Buah bila masak menjadi kering berwarna hitam dan pecah sendiri, berisi 3-6 butir biji yang bentuknya bulat lonjong, panjang 5-9 mm, keras, warnanya merah mengkilap bercak hitam disekitar hilum yang berwarna putih.

Bijinya yang disebut kacang patern oster biasa dibuat manik-manik, kalung dan hiasan lainnya karena bentuknya yang sangat menarik, ternyata sangat beracun dan dapat mematikan. Perbanyakan dengan biji.

Sifat kimiawi dan efek farmakologis : 

  • Biji : Pedas, aphit, netral, sangat beracun. Membunuh parasit (parasiticide), anti radang, melancarkan pengeluaran nanah. Tidak dianjurkan untuk pemakain dalam (minum/makan).
  • Akar, batang dan daun : Manis, netral. Membersihkan panas, anti radang, peluruh kencing (diuretik).
  • Akar : Perangsang muantah (emetikum).
  • Daun : Penyejuk (demulcent) pada kulit dan selaput lendir.

Kandungan kimia :
Biji : Abrine, abraline, L(+)-hypaphorine, precatorine, choline, trigonelline, squalene, betaamyrin, abrussic acid dan asam gallat.

Akar, batang dan daun : Glycyrrhisic acid.
Abrine (jequiritin) suatu albumin tumbuhan, senyawaan ini sangat toksik, larut dalam larutan natrium klorida, mempunyai titik lebur 295 celcius dan dapat menghambat pertumbuhan Ehrlich scites tumor pada mencit.

Bagian yang dipakai : Biji, akar, batang dan daun.

Kegunaan :

  1. Biji :
    Pemakaian luar untuk :
    – Kudis, kurap, radng kulit bernanah, ekzema, bisul, memar.
    – Bercak putih di kulit (leucoderma).
    – Sakit pinggang.
    – Sebagai obat tetes untuk pengobatan penyakit mata kronis seperti : Trachoma dan kekeruhan pada cornea
  2. Akar, daun dan batang :
    – Sakit tenggorokan, sariawan mulut, radang amandel.
    – Bronchitis, batuk kering.
    – Hepatitis.
    – Kencing terasa panas.
    – Panas dalam.

Pemakaian luar : Tumbukan daun dapat digunakan untuk mengkompres :
– Bengkak (memar)
– Sakit otot(rheumatism)
– Bercak-bercak berwarna pada kulit yang terpapar (freckles)

Pemakaian : 
– Untuk minum : Akar, batang, daun : 10-15 gr, direbus.
– Pemakaian luar : Biji atau daun, secukupnya dilumatkan dan dibubuhkan ketempat yang sakit.

Cara pemakaian :

  1. Infeksi jamur, scabies, radang kulit bernanah, ekzema : Biji secukupnya ditumbuk halus, campurkan sedikit minyak. Oleskan kebagian tubuh yang sakit.
  2. Sakit tenggorokan hepatitis : 10-15 gr akar dan batang dicuci bersih, akarnya diotong-potong secukupnya lalu direbus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, dibagi dalam 2 bagian untuk minum dalam satu hari.
  3. Serak, amandel sakit tenggorokan : Daun saga segar atau yang telah dikeringkan diseduh dengan air panas, setelah dingin diminum seperti teh.
  4. Bronchitis : 10-15 gr daun segar setelah dicuci bersih lalu direbus dengan 2 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum.
  5. Bercak putih di kulit (Leucoderma) : Biji saga dan akar daun encok (Plumbago zeylanica atau P. rosea) ditumbuk halus, lalu ditambahkan sedikit air sampai menjadi adonan seperti bubur pekat. Dipakai untuk menurapkan bercak putih di kulit.
  6. Batuk pada anak : Segenggam penuh daun saga berikut tangkainya, sebutir bawang merah, 3 butir adas, sepotong kecil kayu pulosari, sepotong gula batu, tambahkan air secukupnya lalu rebus selama 15 menit. Setelah dingin disaring, lalu minum.
  7. Batuk kering : 1 genggam daun saga, 1 genggam daun asam, sepotong kayu manis cina, dicuci bersih lalu direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 2 gelas. Setelah dingin disaring 2 x 1 gelas.
  8. Batuk : 1/4 genggam daun saga, 2 kuntum bunga kembang sepatu, 1/5 genggam daun poko, 10 kuntum bunga tembeleken, 2 butir bawang merah, 1 sendok teh adas, 1 jari pulosari, 1 jari rimpang jahe, 3 jari gula enau, dicuci dan dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 1/2 gelas. Setelah dingin disaring, dibagi untuk 3 kali minum.
  9. Sariawan : 
    a. Daun saga setelah dicuci bersih, dikunyah. Lakukan 2 kali sehari.
    b. Daun saga secukupnya digodok, setelah dingin dipakai untuk kumur-kumur.
    c. 1/5 genggam daun saga dicuci besih lalu digiling halus, tambahkan 1/2 cangkir air masak dan sedikit garam. Diperas dan disaring, lalu minum. Lakukan 3 kali sehari .
  10. Trachoma : 1/2 genggam daun saga dicuci bersih lalu digiling halus. Tambahkan 120 cc air masak, lalu disaring dengan kertas sairng. Airnya dipakai untuk merambang mata yang sakit. Lakukan 3-6 kali sehari.
  11. Trachoma, kekeruhan pada kornea : Infus 3% dari biji saga yang dibuang kulitnya, dipakai sebagai obat tetes.
  12. Wasir : 1/4 genggam daun saga, 1 jari rimpang temulawak, 3/4 jari klembak, 1/4 genggam pegagan, 1/5 genggam daun patikan cina, 3 jari gula enau, dicuci dan dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 5 gelas air bersih sampai tersisa 1/2 nya. Setelah dingin disaring lalu dibagi untuk 3 kali minum.
  13. Panas dalam : 10-15 gr tangkai dan daun saga dicuci bersih lalu direbus dengan 2 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum.

Catatan :

  • Biji mengandung beberapa macam protein yang sangat beracun. Biasanya, dosis 0,5 mg sudah menyebabkan keracunan. 
  • Gejala keracunan biji : Napsu makan berkurang, mual, muntah, sakit perut, diare, susah bernapas, kulit kebiruan, sirkulasi darah menurun, kencing sedikit, akhirnya terjadi hemolisis, kencing berdarah dan mati karena susah bernapas.
  • Tindakan yang dilakukan : Penderitaan dibuat supaya muntah, cuci perut dan beri soda 5-15 g.
  • Pengobatan (antidote) : 10 gr Glycyrrhiza uralensis dan 12 gr Lonicera japonica direbus dengan 2 mangkuk air sampai tersisa 1 mangkuk. Minum.

Leave a Reply