Direktori Tanaman Obat & Pengobatan

Pare | Momordica charantia Linn.

0

Pare masuk dalam familia Cucurbitaceae

Sinonim : M. balsamina Blanco, M. balsamina Descourt, M. cylndrica Blanco, M. jagorana C. Koch, M. operculata Vell, Cucumis africanus Lindl.

Nama daerah : Sumatera : prieu, peria, foria, pepare, kambeh, paria. Jawa : paria, pare, pare pahit, pepareh. Nusatenggara : paya, paria, truwuk, paita, palaik, pariak, pania, pepule. Sulawesi : poya, pudu, pentu, paria, belenggede, palia. Maluku :  papariane, apriane, papari, kakriano, taparipong, papariano, popare, pepare.

Nama asing : African cumber, bitter cucumber, bitter gourd, bitter melon, balsam pear, maidens blush, karela, karvel, springkomkommer.

Nama simplisia : Momordiaceae fructus (buah pare).

Uraian tanaman : Pare banyak terdapat di daera tropika, tumbuh baik di dataran rendah dan dapat ditemukan tumbuh liar ditanah terlantar, tegalan, dibudidayakan atau ditanam di pekarangan dengan dirambatkan di pagar, untuk diambil buahnya. Tanaman ini tidak memerlukan banyak sinar matahari, sehingga dapat tumbuh subur di tempat-tempat yang agak terlindungi.

Tanaman setahun, merambat atau memanjat dengan alat pembelit atau sulur berbentuk spiral, banyak bercabang, berbau tidak enak. Batang berusuk lima, panjang 2-5 m, yang muda berambut rapat. Daun tunggal, bertangkai yang panjangnya 1,5-5,3 cm, letak berseling, bentuknya bulat panjang, dengan panjang 3,5-8,5 cm, lebar 4 cm, berbagi menjai 5-7, pangkal berbentuk jantung, warnanya hijau tua. Taju bergigi kasar sampai berlekuk menyirip. Bunga tunggal, berkelamin dua dalam satu pohon, bertangkai panjang, berwarna kuning. Bunga buah memanjang, dengan 8-10 rusuk memanjang, berbntil-bintil tidak beraturan, panjang 8-30 cm, rasanya pahit. Warna buah hijau, bila masak menjadi oranye yang pecah dengan 3 katup. Biji banyak, warna kekuningan, berbentuk pipih memanjang keras.

Ada 3 jenis tanaman pare, yanitu pare gajih, pare kodok dan pare hutan. Pare gajih berdaging tebal, warnanya hijau muda atau keputihan, berbentuk besar dan panjang dan rasanya tidak begitu pahit. Pare odok buahnya bulat pendek, rasanya pahit. Pare hutan adalah pare yang tumbuhan liar, buahnya kecil-kecil dan rasanya pahit. Untuk memperoleh buah yang panjang dan lurus, biasanya pada ujung buah yang masih kecil digantungkan batu. Daun dari pare yang tumbuh liar, dinamakan dau tudung. Daun ini dikatakan lebih berkhasiat bila digunakan untuk pengobatan. Daun dan buahnya yang masih muda dimakan sebagai lalab mentah atau setelah dikukus terlebih dahuu, dimasak sebagai sayuran, tumis, sambal goreng, gado-gado, dan sebagainya. Tanaman ini juda dapat digunakan untuk membunuh serangga. Perbanyakan degan biji.

Sifat kimiawi dan efek farmakologis : Pahit dan dingin. Anti radang. Masuk meridian jantung, hati dan paru.
Buah : Peluruh dahak, pembersih darah, penambah napsu makan, penurun panas, penyegar badan.
Bunga : Memacu enzim pencernaan
Daun : Peluruh haid, pencahar, perangsang muntah, penurun panas.

Kandungan kimia : 

  • Daun : Momordisin, momordin, karantin, asam trikosanik, resin, asam resinat, saponin, vit A dan C serta minyak lemak terdiri dari adam oleat, asamm linolet, asam stearat dan L. oleostearat.
  • Bunga : Karatin, hydroxytryptamine, vit A, B, dan C.
  • Daun : Momordisin.

Bagian yang dipakai : Buah, biji, bunga, daun dan akar.

Kegunaan : 

  1. Buah :
    – Batuk, radang tenggorokan (pharyngitis)l
    – Haus karena panas dalam.
    – Mata sakitdan merah.
    – Demam, malaria.
    – Pingsan karena udara panas (heatstroke).
    – Menambah napsu makan.
    – Kencing manis.
    – Disentri.
    – Rheumatism, rematik gout.
    – Memperbanyak air susu (ASI).
    – Datang haid sakit (dismenorrhoea).
    – Sariawan .
    – Infeksi cacing gelang.
  2. Bunga :
    – Pencernaan terganggu.
  3. Daun :
    – Cacingan.
    – Luka, abses, bisul.
    – Erysipelas.
    – Terlambat haid.
    – Sembelit, menambah napsu makan.
    – Sakit lever.
    – Demam.
    – Melancarkan pengeluaran ASI
    – Sifilis, kencing nanah (Gonorrhea)
  4. Akar :
    – Disentri amuba
    – Wasir
  5. Biji :
    – Cacingan.
    – Impotensi.
    – Kanker.

Pemakaian :

  • Untuk minum : 15-30 gr juice atau direbus
  • Pemakaian luar : Buah atau daun secukupnya digiling halus, untuk pemakaian setempat pada luka bakar, bisul, abses, eksim, digigit serangga, biang keringat (malaria), melancarkan pengeluaran ASI, dan sebagainnya.

Cara pemakaian : 

  1. Haus karena panas dalam, demam, heat stroke : Satu buah pare mentah yang masih segar dicuci bersih, lalu dibelah. Buang isinya,potong-potong secukupnya, lalu direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum.
  2. Diabetes : 
    a. 200 gr buah pare segar dicuci bersih lalu diblender. Tambahkan air minum secukupnya, lalu diperas dengan sepotong kain sampai terkumpul sebanyak 50 ml (seperempat gelas). Perasan dihangatkan dengan api kecil selama 15-30 menit. Setelah dingin diminum, lakukan setiap hari.
    b. 200 gr buah pare dicuci bersih lalu diiris tipis-tipis. Rebus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum. Lakukan setiap hari.
  3. Disentri : Buah pare segar dicuci lalu dibelah, isinya dibuang. Parut atau dijuice, airnya diminum. Segera  minum air matang. Satu kali minum 200 cc.
  4. Disentri amuba, diare : Ambil akar pare yang masih segar sebanyak 30 g. Dicuci bersih lalu dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin di saring, tambahkan gula pasir secukupnya lalu minum.
  5. Cacingan pada anak :
    a. Daun segar sebanyak 7 gr, diseduh dengan 1/2 cangkir air panas. Setelah dingin disaring, tambahkan 1 sendok teh madu. Aduk sampai merata, minum sekaligus sebelum makan pagi.
    b. Ambil dua sampai tiga biji pare. Giling sampai halus, aduk dengan sedikit air masak. Minum, disusul dengan minum air hangat.
    Ramuan ini untuk pengobatan infeksi cacing gelang.
  6. Menyuburkan rambut yang tipis dan kemerahan :
    a.
    Ambil segenggam daun pare, cuci bersih. Daun kemudian ditumbuk sampai seperti bubur, tambahkan air 3/4 gelas. Ramuan ini kemudain diembunkan semalam. Pagi-pagi ramuan ini disaring, airnya dipakai untuk membasuh kulit kepala.
    b.
    Ambil daun pare yang masih segar secukupnya, lalu cuci bersih. Daun pare tadi ditumbuk sampai halus, lalu diperas dengan sepotong kain. Airnya dipakai untuk melumas kulit kepala. Lakukan setiap hari. Ramuan ini terutama digunakan untuk bayi dan anak balita.
  7. Bisul, abses : Ambil senggem daun pare, dicuci bersih lalu direbus dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum.
  8. Demam, malaria, sakit lever, sembelit, cacingan : Segenggam penuh daun pare dicuci bersih, lalu ditumbuk halus. Tambahkan 1 cangkir air matang, diaduk merata lalu disaring. Air saringannnya ditambahkan sedikit garam, lalu diminum pada pagi hari sebelum makan.
  9. Kencing nanah : 6 lembar daun pare, 2 jari akar jayanti, 2 jari kulit kemboja, 1 jari rimpang temulawak, 3 jari gula enau, dicuci dan dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 4 gelas air sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring, lalu minum. Sehari 3 x 3/4 gelas.
  10. Sifilis : 5 lembar daun pare, 2 jari akar jayanti, 3/4 jari rimpang temulawak, 3/4 jari batang brotowali, 1 jari gadung cina. 3 jari gula enau, dicuci lalu dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 4,5 gelas air bersih, sampai tersisa 2 1/4 gelas. Setelah dingin disaring lalu minum. Sehari 3 x 3/4 gelas.
  11. Batuk, batuk rejan : 1/3 genggam daun pare hutan dicuci bersih lalu digiling sampai halus. Tambahkan 3/4 cangkir air masak dan sedikit garam, aduk merata lalu saring, minum. Lakukan 2 kali sehari.
  12. Melacarkan pengeluaran ASI : Daun pare secukupnya dicuci bersih, lalu digiling halus. Balurkan disekeliling payudara.
  13. Sariawan, dismenorrhoea : 60 g buah pare dibuang bijinya lalu parut, peras dengan sepotong kain. Air parutannya ditambah sedikit gula, aduk sampai rata. Minum sekaligus.
  14. Wasir : Ambil akar pare secukupnya, cuci bersih lalu dibilas dengan air matang. Giling halus sampai seperti adonan salep. Oleaskan pada wasir. 
  15. Impotensi :
    a. Biji pare disangrai sampai kering, kemudian digiling atau ditumpuk sampai halus. Ambil 10 gr bubuk biji pare tadi, tambahkan sedikit air matang dan 2 sendok makan madu, minum. Lakukan 3 x sehari.
    b. Biji pare 16 gr, biji kucai 15 gr , merica 20 butir, jahe yang tua dan gula merah sebesar ibu jari. Rebus ramuan tadi dengan 600 cc air bersih sampai tersisa 300 cc. Hangat-hangat disaring, lalu minum.
  16. Eksim basah : Daun pare dicuci bersih lalu dikeringkan. Giling menjadi serbuk, tambahkan sedikit minyak kelapa. Oleskan pada eksim tersebut.

Catatan :

  • Penderita dengan organ limpa dan lambungnya lemah serta dingin, makan buah pare dapat menimbulkan sakit perut dan muntah berak.
  • Wanita hamil dilarang menggunakan daun pare. 

 

Leave a Reply