Direktori Tanaman Obat & Pengobatan

Mindi Kecil – Melia azedarach L.

Mindi Kecil - Melia azedarach L. ( Ku lian pi)
0

Mindi Kecil masuk dalam familia Meliaceae

Sinonim : M. azadirachta, M. dubia auct. (non.Cav.) How et T.Chen, M. dubia Cav. M, japonica G. Don, M. toosendan Sieb. et Zucc.

Nama daerah : Sumatera : Renceh, mindi kecil,. Jawa : gringging, mindi, cakra-cikri.

Uraian tanaman : Pohon meranggas, banyak bercabang, tinggi 10-20 m, kerapkali ditanam di sisi jalan sebagai pohon pelindung, kadang-kadang menjadi liar di daerah-daerah dekat pantai dan dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1100 m diatas permukaan laut. Kulit batang berwarna coklat tua, daunnya daun majemuk menyirip ganda ysng tumbuh berseling dengan panjang 20-80 cm. Anak daun berbentuk bundar telur sampai lanset, tepi gerigi, ujung runcing, pangkal membulat atau tumpul, warna daun permukaan atas hijau tua dan permukaan bawah hijau muda dengan panjang 3-7 cm, lebar 1,5-3 cm. Bunga majemuk dalam malai yang panjangnya sekitar 1 cm, warnanya ungu pucat, baunya harum. Buanhnya buah butu, bulat yang diamaternya sekitar 1,5 cm, warnanya coklat kekuningan berbiji satu. Biji sangat beracun dan biasa dipakai untuk meracun ikan atau serangga. Daun yang dikeringkan didalam buku dapat menolak serangga atau kutu. Perbanyakan dengan biji, tumbuhnya cepat asalnya dari Cina.

Sifat kimiawi dan farmakologis : Rasa pahit, dingin, sedikit beracun. Obat cacing (anthelmintic), membersihkan panas dan lembab, laxantive, peluruh air kemih.

Kandungan kimia : Kulit batang dan kulit akarnya mengandung toosendanin C30H30O11 dan komponen yang larut C30H40O12. Juga terdapat margoside, kaempferol, resin, tannin,n-triacontane, betha-silosterol dan tripterpene kulinone. Biji mengandung resin yang sangat beracun.

Bagian yang  dipakai : kulit batang kulit akar dan daun, pemakaian segar atau dikeringkan.

Kegunaan :

  1. Penderita cacingan terutama ascariasis, oxyuriasis, taeniasis, dan trichuriasis.
  2. Darah tinggi (hipertensi)

Pemakaian :

  1. Untuk minum : 5-10 gr (yang segar 30-60gr), digodok atau dijadikan bubuk, pil.
  2. Pemakaian luar : Dipakai pada penyakit jamur (tinea capitis) scabies, eczema, koreng, urticaria (gatal-gatal), dan trichomonal vaginitis (dengan gejala gatal dan keputihan). Kulit batang atau kulit akar digodok, airnya untuk cuci atau dibakar/dipanggang lalu dijadikan bubuk, ditambahkan cuka atau minyak, untuk pemakaian setempat. Daun digodok, airnya untuk cuci dan daunnya dikompreskan ke koreng, bisul, eczeem, infestasi cacing pada kulit.

Cara pemakaian :

  1. Cacingan : 120-120 gr kulit batang atau kulit segar digodok, minum.
  2. Scabies (dengan gejala gatal pada kulit): Bubuk dari kulit batang/akar, dicampur dengan cuka, setelah diaduk rata, diborehkan pada bagian badan yang gatal.
  3. Kudis : kulit batang atau kulit akar digodok, airnya untul cuci bagian yang sakit.
  4. Daun mindi ditumbuk halus, bubuhkan pada bagian yang sakit, lalu dibalut.
  5. Kulit batang mindi secukupnya dibakar sampai hangus, lalu digiling halus dan ditambahkan air kapur sirih secukupnya, dipakai unutk menggosok bagian kulit yang sakit.

Catatan :

  1. Pada dosis pengobatan, toosendanin (zat berkhasiat pada mindi) jarang menimbulkan efek samping.
  2. Kadang-kandang dapat menimbulkan gejala pening, muntah, nyeri perut, diare, kemerahan pada muka (flushing) dan mengantuk.
  3. Pada beberapa pasien meimnbulkan gejala penglihatan kabur dan gatal-gatal . Gejala-gejala tersebut menghilang dalam 2-3 jam, dan beberapa pasien dapat lebih lama dari 1 hari dan akan menghilang spontan tanpa pengobatan khusus.
  4. Pada dosis yang berlebihan, akan menimbulkan gejala dengan rasa kebas pada anggota gerak (neuritis perifer), denyut jantung tidak teratur (arrhymia), tekanan darah menurun (hypotension) dan sesak napas (dyspnea).
  5. Hindarkan pemberian tanaman obat ini pada pasien dengan penyakit jantung yang berat, luka pada lambung (gastric ulcer), kurang darah (anemia) dan kondisi badan lemah.
  6. Dilarang pakai pada penderita dengan penyakit hati dan ginjal, karena dapat menyebabkan perlemakan hati (fatty degeneration) dan ginjal.

 

Leave a Reply